Beberapa laporan kasus telah menunjukkan adanya kaitan antara penggunaan kratom, terutama dalam jangka panjang, dengan kerusakan hati. Gejala yang mengindikasikan masalah hati ini meliputi jaundice (kulit dan mata menguning), urine gelap, dan nyeri perut bagian atas. Kondisi ini bisa berkembang menjadi kolestasis intrahepatik atau bahkan gagal hati. Beberapa laporan ini menjadi peringatan serius bagi para pengguna kratom mengenai potensi bahaya yang tersembunyi di balik konsumsi zat ini.
Inti dari temuan beberapa laporan ini adalah bagaimana kratom memengaruhi fungsi hati. Hati adalah organ vital yang bertanggung jawab untuk memetabolisme berbagai zat, termasuk obat-obatan dan senyawa kimia. Ketika hati terpapar zat-zat tertentu dalam kratom secara terus-menerus, ia bisa mengalami stres oksidatif atau peradangan, memicu kerusakan sel hati yang progresif.
Gejala jaundice atau kulit dan mata menguning adalah indikator klasik adanya masalah hati. Ini terjadi ketika bilirubin, pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah, tidak dapat diproses dengan baik oleh hati dan menumpuk di tubuh. Kemunculan jaundice setelah konsumsi kratom harus segera diwaspadai, karena beberapa laporan mengaitkannya dengan kerusakan hati yang parah.
Urine gelap juga merupakan tanda umum masalah hati. Hati yang bermasalah tidak dapat membuang limbah tubuh dengan efisien, termasuk bilirubin. Akibatnya, bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine, menyebabkan warnanya menjadi lebih pekat dan gelap. Jika Anda mengalami perubahan warna urine setelah menggunakan kratom, ini adalah alarm yang patut diperhatikan serius.
Nyeri perut bagian atas, terutama di sisi kanan, juga bisa menjadi gejala kerusakan hati. Hati terletak di bagian ini, dan peradangan atau pembengkakan hati dapat menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Beberapa laporan kasus sering mencatat gejala ini pada pasien yang mengalami masalah hati akibat penggunaan kratom, menunjukkan adanya gangguan fungsi hati.
Kondisi ini dapat berkembang menjadi kolestasis intrahepatik, di mana aliran empedu dari hati terhambat. Jika dibiarkan, kolestasis dapat menyebabkan kerusakan hati lebih lanjut, bahkan berujung pada gagal hati yang mengancam jiwa. Penting untuk diingat bahwa beberapa laporan ini menyoroti risiko serius yang mungkin tidak disadari banyak pengguna kratom secara rutin.
Meskipun beberapa laporan kasus tidak selalu mencerminkan keseluruhan populasi, mereka memberikan bukti awal yang kuat tentang potensi bahaya kratom terhadap hati. Oleh karena itu, penting untuk selalu berkonsultasi dengan profesional kesehatan jika Anda memiliki kekhawatiran atau mengalami gejala setelah mengonsumsi kratom.