Berita

TBC dan Sejarah Kelamnya: Mengapa Penyakit Kuno Ini Masih Menjadi Ancaman Global

Tuberkulosis (TBC) memiliki Sejarah Kelamnya yang membentang ribuan tahun. Dikenal juga sebagai “White Plague,” penyakit ini pernah menjadi penyebab utama kematian di Eropa dan Amerika Utara selama abad ke-18 dan ke-19. Meskipun telah ditemukan pengobatan yang efektif, TBC masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling mematikan di dunia. Kehadirannya menunjukkan ketimpangan akses kesehatan global yang masih masif.

Pada puncak Sejarah Kelamnya, TBC menyerang tanpa pandang bulu, menghilangkan jutaan nyawa, termasuk tokoh-tokoh besar dalam sastra dan seni. Kurangnya pengetahuan tentang penularan dan tidak adanya obat membuat penyakit ini dianggap sebagai kutukan. Kondisi sanitasi yang buruk dan kepadatan penduduk di perkotaan saat Revolusi Industri mempercepat penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis ini.

Penemuan vaksin BCG dan antibiotik seperti Streptomisin dan Isoniazid pada abad ke-20 membawa harapan besar. Obat-obatan ini berhasil mengendalikan TBC di negara-negara maju. Periode ini seolah menandai akhir dari Sejarah Kelamnya TBC. Namun, euforia ini tidak bertahan lama karena munculnya tantangan baru yang mengancam kembali perjuangan global melawan penyakit ini.

Tantangan terbesar saat ini adalah munculnya TBC yang resistan terhadap obat (Multi-Drug Resistant/MDR-TB dan Extensively Drug Resistant/XDR-TB). Resistensi ini disebabkan oleh pengobatan yang tidak tuntas atau manajemen pasien yang buruk. Varian TBC yang kebal obat ini sangat sulit dan mahal untuk disembuhkan, menjadikannya ancaman kesehatan masyarakat yang serius.

Selain resistensi obat, TBC juga memiliki kaitan erat dengan infeksi HIV. Orang yang hidup dengan HIV memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, membuat mereka sangat rentan terhadap TBC. Koinfeksi TBC-HIV meningkatkan angka kematian dan mempersulit upaya pengendalian kedua penyakit ini, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Faktor sosial ekonomi juga memainkan peran penting. Kemiskinan, gizi buruk, dan kepadatan tempat tinggal adalah kondisi ideal bagi bakteri TBC untuk berkembang biak dan menyebar. Selama akar masalah sosial ini tidak diatasi, upaya medis saja tidak akan cukup untuk memberantas penyakit ini, sehingga mengulang babak baru Sejarah Kelamnya TBC.

Diperlukan komitmen global yang diperbarui untuk mengatasi TBC. Ini termasuk peningkatan pendanaan untuk penelitian dan pengembangan obat baru, serta memastikan akses diagnostik dan pengobatan yang mudah dijangkau oleh semua populasi, tanpa terkecuali. Setiap kasus TBC yang tidak diobati adalah potensi penyebar penyakit baru.

Oleh karena itu, TBC tetap menjadi peringatan keras. Meskipun berakar dari Sejarah Kelamnya, penyakit kuno ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan dalam kesehatan masyarakat memerlukan solusi yang tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik. Dunia harus bersatu untuk mengakhiri ancaman global yang dapat dicegah ini.