Berita, Edukasi

Mitos Suara Cicak: Apakah Benar Cicak Merespons Ucapan Manusia?

Di lingkungan masyarakat Garut dan banyak wilayah lain di Indonesia, sering terdengar anggapan bahwa jika seekor reptil kecil mengeluarkan bunyi saat seseorang sedang berbicara, maka ucapan tersebut dianggap sebagai kebenaran. Fenomena Suara Cicak ini telah lama menjadi mitos yang mendarah daging, seolah-olah hewan tersebut merupakan saksi bisu dari percakapan manusia. Namun, jika kita menelaah dari sudut pandang biologi dan zoologi modern di tahun 2026 ini, bunyi yang dikeluarkan oleh hewan dari famili Gekkonidae tersebut memiliki fungsi biologis yang sangat spesifik dan sama sekali tidak berkaitan dengan validitas ucapan manusia di sekitarnya.

Secara ilmiah, Suara Cicak merupakan salah satu bentuk komunikasi vokal yang digunakan untuk menandai wilayah kekuasaan atau menarik perhatian lawan jenis saat musim kawin. Cicak memiliki struktur laring yang memungkinkan mereka memproduksi suara “ck-ck-ck” yang khas. Frekuensi bunyi ini sering kali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, seperti suhu udara dan tingkat kelembapan. Saat suhu ruangan terasa lebih hangat, metabolisme cicak akan meningkat, yang terkadang membuat mereka lebih aktif mengeluarkan suara. Jadi, sinkronisasi antara ucapan manusia dan bunyi cicak hanyalah sebuah kebetulan statistik yang kemudian diberikan makna berlebih oleh budaya masyarakat secara turun-temurun.

Stikes Garut memberikan edukasi bahwa memahami perilaku hewan melalui pendekatan sains dapat membantu masyarakat memiliki pola pikir yang lebih rasional. Cicak merupakan predator alami bagi nyamuk dan serangga kecil, sehingga keberadaan mereka di dalam rumah sebenarnya memberikan manfaat kesehatan bagi manusia karena membantu menekan populasi vektor penyakit seperti demam berdarah. Mengamati Suara Cicak seharusnya menjadi pengingat bagi kita akan keseimbangan ekosistem di dalam hunian, bukan sebagai standar untuk menentukan kebenaran sebuah pernyataan. Dengan cara pandang yang logis, kita tetap bisa menghargai keberadaan mereka sebagai bagian dari keragaman hayati tanpa harus terjebak dalam takhayul yang tidak memiliki dasar medis maupun ilmiah.

Selain sebagai alat komunikasi, Suara Cicak juga berfungsi sebagai respons terhadap ancaman atau kehadiran predator lain di sekitarnya. Terkadang, gerakan manusia yang tiba-tiba atau suara percakapan yang keras dapat memicu stres ringan pada cicak, yang kemudian direspon dengan bunyi tertentu. Membedah mitos ini penting dilakukan agar masyarakat, terutama generasi muda di Garut, lebih tertarik pada ilmu biologi. Melalui pemahaman yang benar, kita belajar bahwa alam memiliki bahasanya sendiri yang sangat menarik untuk dipelajari. Mari kita jadikan setiap fenomena alam sebagai sarana belajar untuk memperluas cakrawala berpikir kita, dengan tetap memegang teguh fakta bahwa kebenaran sebuah ucapan ditentukan oleh data dan fakta, bukan oleh respons suara dari seekor hewan.