Edukasi, Kesehatan

Merasa Tidak Cukup?: Mengatasi Sindrom Impostor dan Mengakui Pencapaian Diri Sendiri

Sering merasa bahwa kesuksesan yang Anda raih hanyalah kebetulan belaka? Merasa tidak layak atas pujian atau pencapaian? Jika demikian, mungkin Anda mengalami sindrom impostor. Sindrom impostor adalah pola psikologis di mana seseorang merasa ragu akan kemampuannya dan merasa takut ketahuan sebagai “penipu” meskipun memiliki bukti yang jelas tentang kompetensinya. Fenomena ini sangat umum, terutama di kalangan profesional berprestasi tinggi. Mereka terus merasa tidak cukup baik, bahkan setelah mencapai banyak hal. Menurut data dari sebuah survei psikologi online per 22 September 2025, sebanyak 70% dari responden profesional mengaku pernah mengalami sindrom impostor setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Salah satu cara untuk mengatasi sindrom impostor adalah dengan menyadari dan menerima perasaan tersebut. Alih-alih melawannya, cobalah untuk memahami dari mana rasa tidak layak itu berasal. Mengakui pencapaian diri sendiri, sekecil apa pun, adalah langkah penting selanjutnya. Buatlah daftar pencapaian, mulai dari menyelesaikan proyek sulit, mendapatkan promosi, hingga hal-hal sederhana seperti membantu rekan kerja. Ketika perasaan ragu muncul, lihat kembali daftar tersebut sebagai pengingat akan kemampuan Anda. Seorang psikolog klinis, Ibu dr. Aisyah Putri, M.Psi., dalam seminar daring pada hari Rabu, 24 September, menyatakan, “Sangat penting untuk memvalidasi diri sendiri. Jangan biarkan pikiran negatif merampas kebahagiaan Anda atas sebuah pencapaian.”

Berbagi perasaan dengan orang lain juga dapat membantu. Bicarakan kekhawatiran Anda dengan teman, mentor, atau bahkan terapis. Anda akan terkejut mengetahui bahwa banyak orang di sekitar Anda juga pernah merasakan hal yang sama. Hal ini akan mengurangi beban yang Anda pikul sendiri. Selain itu, penting untuk membedakan antara kritik yang membangun dan keraguan diri yang tidak berdasar. Tuliskan umpan balik yang Anda terima, baik itu positif maupun negatif, dan analisis secara objektif.

Pihak kepolisian juga menyadari dampak sindrom ini pada kesehatan mental. Kepala Biro Psikologi SSDM Polri, Brigjen Pol. Awi Setiyono, menyatakan bahwa pihaknya memberikan sesi konseling rutin untuk para personel, terutama yang baru menjabat di posisi strategis. “Kami ingin memastikan mereka tidak terbebani oleh rasa tidak layak, karena hal itu dapat memengaruhi kinerja dan pengambilan keputusan di lapangan,” ujarnya. Dengan demikian, mengatasi sindrom impostor adalah proses yang membutuhkan kesadaran, dukungan, dan komitmen untuk mengakui bahwa Anda layak atas setiap kesuksesan yang telah diraih.