Lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren, seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi anak untuk belajar dan bertumbuh. Namun, realitasnya, kasus kekerasan seksual verbal sering kali terjadi dan sayangnya, masih banyak yang menganggapnya sebagai bentuk “candaan” atau “pendisiplinan”. Mengabaikan perilaku ini sama dengan membiarkan trauma tumbuh subur di dalam diri anak. Normalisasi atas tindakan yang merendahkan martabat seseorang, khususnya dalam bentuk kata-kata atau pelecehan verbal, harus dihentikan dengan tegas dan tanpa kompromi demi melindungi masa depan murid.
Pelaku kekerasan seksual verbal sering kali menggunakan otoritas mereka untuk membungkam korban, membuat anak merasa bersalah, atau takut untuk melapor. Dampak dari tindakan ini sangat merusak kesehatan mental anak; mereka bisa merasa rendah diri, mengalami depresi, hingga kehilangan kepercayaan terhadap orang dewasa di sekitar mereka. Lingkungan pendidikan yang seharusnya penuh dengan kasih sayang justru berubah menjadi tempat yang penuh ancaman. Penting bagi pengelola pondok dan staf pendidikan untuk memiliki standar perilaku yang jelas dan sanksi tegas bagi siapa saja yang melakukan pelecehan verbal.
Edukasi mengenai batasan tubuh dan pentingnya rasa hormat harus menjadi bagian dari kurikulum di pondok pesantren. Murid perlu diberdayakan untuk mengenali apa itu kekerasan seksual dan berani untuk bicara jika mereka mengalami atau menyaksikan tindakan pelecehan. Jangan pernah memberikan ruang bagi budaya “tutup mulut” atau rasa malu yang menyalahkan korban. Ketika ada laporan mengenai perilaku yang tidak pantas, harus segera ditindaklanjuti secara serius oleh pihak yang berwenang, dengan prioritas utama selalu pada perlindungan dan pemulihan kesehatan mental korban.
Masyarakat dan orang tua harus lebih peka dan berani mengawasi lingkungan belajar anak mereka. Jangan biarkan label “tempat suci” menghalangi kita untuk bersikap kritis terhadap adanya potensi kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan. Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci dalam menciptakan pondok yang benar-benar aman. Jika ditemukan tanda-tanda pelecehan, jangan ragu untuk membawa kasus ini ke jalur yang semestinya agar pelaku mendapatkan efek jera dan korban mendapatkan keadilan yang mereka butuhkan.
Pada akhirnya, menghapus budaya kekerasan seksual adalah perjuangan bersama yang harus dilakukan secara terus-menerus. Kita harus menanamkan nilai-nilai kebaikan yang menghargai setiap individu tanpa kecuali. Mari kita ciptakan ruang belajar yang tidak hanya mendidik secara kognitif, tetapi juga melindungi secara psikologis. Dengan menghentikan normalisasi pelecehan verbal, kita sedang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, percaya diri, dan memiliki masa depan yang cemerlang tanpa bayang-bayang ketakutan dari perilaku orang-orang di sekitar mereka.