Pekerjaan sebagai supir angkutan kota menuntut jam kerja yang panjang dan tidak menentu, sering kali membuat mereka mengabaikan aspek kesehatan, terutama kesehatan reproduksi. Mahasiswa STIKES Garut mengambil inisiatif untuk menjangkau kelompok ini dengan menyelenggarakan program edukasi reproduksi yang dilakukan melalui bincang santai di terminal pada malam hari. Pendekatan ini dilakukan di luar jam kerja supir, sehingga mereka bisa mengikuti diskusi tanpa harus mengorbankan waktu mencari nafkah. Diskusi santai ini menjadi ruang aman bagi para supir untuk bertanya tanpa rasa malu.
Dalam sesi edukasi reproduksi tersebut, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi untuk mencegah infeksi menular seksual (IMS) dan menjaga keharmonisan keluarga. Mereka menyadari bahwa banyak supir yang selama ini kurang mendapatkan informasi yang akurat mengenai masalah ini karena keterbatasan waktu dan kurangnya akses ke fasilitas kesehatan. Mahasiswa menggunakan bahasa yang merakyat dan gaya penyampaian yang santai namun tetap informatif. Hal ini sangat efektif dalam memecahkan stigma dan rasa sungkan yang sering dirasakan para supir angkot dalam membahas topik kesehatan sensitif.
Dampak dari edukasi reproduksi ini sangat dirasakan oleh para supir di Garut. Mereka merasa lebih terbuka dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana menjaga kesehatan reproduksi sebagai bagian dari tanggung jawab mereka terhadap keluarga. Mahasiswa juga membagikan informasi mengenai akses layanan kesehatan reproduksi yang tersedia di puskesmas-puskesmas terdekat, sehingga supir angkot tahu ke mana harus mencari bantuan medis jika menemui masalah.
Selain edukasi, edukasi reproduksi ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melakukan skrining kesehatan umum seperti tekanan darah dan gula darah secara gratis bagi para supir angkot. Banyak dari mereka yang terdeteksi memiliki risiko hipertensi atau diabetes yang perlu diwaspadai sejak dini. Mahasiswa memberikan rujukan bagi supir yang memerlukan tindak lanjut medis. Program ini mencerminkan pendekatan kesehatan masyarakat yang sangat proaktif. Mahasiswa STIKES Garut berhasil membangun kedekatan emosional dengan komunitas supir, menjadikan mereka mitra yang dipercaya dalam menjaga kesehatan sehari-hari.
Ke depannya, program edukasi reproduksi ini akan dijadikan agenda rutin yang dikelola bekerja sama dengan komunitas supir angkot. Mahasiswa berharap dapat memperluas cakupan edukasi ke topik kesehatan lainnya yang relevan dengan kehidupan supir. Mari kita apresiasi upaya mahasiswa ini. Kesehatan adalah hak setiap orang, tanpa memandang apa pekerjaannya. Dengan memberikan edukasi yang tepat sasaran, kita membantu para pejuang jalanan ini tetap sehat agar bisa terus mencari nafkah dengan sejahtera untuk keluarga mereka di rumah. Semoga inisiatif ini terus berlanjut.